Airlangga Safe Space

Need to Talks? I’m All Ears

Writer: Naufal Yoga W.

Editor: Fitria, Rizqka, Dewi, Marsha

Airlangga Safe Space – Listening atau yang biasa kita artikan sebagai mendengarkan memang terlihat sebagai suatu aktivitas yang mudah, terlalu mudah malahan. Kita sudah bisa disebut sebagai pendengar hanya dengan duduk selagi mendengarkan orang lain bicara. Kadang kita bisa juga menyelinginya dengan aktivitas lain, seperti multitasking: mendengarkan sambil beraktivitas yang lain. Namun, apakah memang semudah itu?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita buat simulasi kecil. Bayangin kalau kita lagi curhat mengenai sesuatu yang penting dan personal ke bestie, tapi dia cuma diem atau malah main HP sambil ngangguk-ngangguk doang. Yang pasti, sudah tentu kita ngerasa nggak nyaman, ‘kan? Nah, kira-kira itu juga yang dirasain sama orang lain ketika kita ngelakuin hal yang sama. Contoh tadi dapat kita katakan sebagai pseudolistening.

Pseudolistening : Iyain Aja, Paham Mah Nggak.

Pseudolistening berasal dari kata “pseudo” yang artinya palsu atau kepura-puraan dan “listening” yang berarti mendengarkan. Berdasarkan dua kata tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa pseudolistening memiliki arti sebagai sebuah sikap di mana seseorang berpura-pura mendengar dan memperhatikan orang lain, padahal ia tidak benar-benar memperhatikan. 

Pseudolistening–berbanding terbalik dengan mendengarkan secara pasif–tidak jarang juga dilakukan seseorang dengan memberi ekspresi sebagai tanda menanggapi secara berlebihan. Contohnya, mengangguk di sepanjang kalimat walaupun kalimatnya tidak penting, memberi tanggapan verbal yang cenderung tidak masuk akal, dan lain sebagainya. Tak ayal, hal ini akan membuat lawan bicaranya menjadi tidak nyaman.

Tanpa sadar, banyak dari kita juga melakukan hal ini. Misalnya, kuliah lewat zoom sambil ngeghibah bareng bestie, main HP ketika bestie lagi curhat, sampai spam kata “iya” sambil main HP saat dinasehatin ortu. Tentu aja, dampak hal ini nggak baik buat diri kita sendiri maupun orang lain. 

Mendengarkan adalah salah satu bagian dari proses komunikasi. Nah, dengan berpura-pura mendengarkan (pseudolistening), akan ada dampak kurang baik yang akan memengaruhi hubungan sosial kita. Mereka yang bercerita akan merasa kurang dihargai dan kita akan kehilangan kepercayaan mereka. Padahal, dengan kemampuan komunikasi yang baik, terutama mendengarkan, kita akan dapat memecahkan masalah bersama-sama. Selain kemampuan mendengarkan kita yang terasah, kemampuan problem solving kita juga makin terasah, dan hubungan kita dengan lawan bicara akan semakin solid! 

Listening 101 : Pseudolistening Hilang, Orang Lain Juga Nyaman

Oke, kita sekarang udah tau gimana pseudolistening hadir sehari-hari. Dengan uraian tadi, kita sedikit banyak bisalah menemukan sedikit mengenai dampak pseudolistening, terutama berkaitan dengan hubungan kita sama orang lain. Kita juga bisa ngesimulasiin kalau kita jadi ‘korban’ dari pseudolistening. Terus, gimana biar kita bisa lebih ngedengerin dengan lebih ‘serius’?

Dikutip dari beberapa sumber, berikut adalah cara agar kita bisa mengurangi kebiasaan ini dan juga bisa bikin orang ngerasa lebih nyaman untuk bercerita,

  1. Menyiapkan diri sendiri sebelum mendengarkan orang lain;
  2. Berempati terhadap orang lain;
  3. Menerapkan active listening;
  4. Tidak bersikap menghakimi, atau mendengar hanya untuk mencari kesalahan;
  5. Memahami orang lain;
  6. Tidak tergesa-gesa dalam menanggapi;
  7. Memberi tanggapan dan pertanyaan yang sesuai;
  8. Terkadang, kita bisa membangun kedekatan emosional dengan sesekali menceritakan masalah serupa yang pernah dihadapi dan memberi solusinya, serta;
  9. Memperhatikan lawan bicara.

Nah, kesembilan cara di atas bisa langsung kalian terapkan ya, Safers! Kemampuan yang terlihat mudah tapi kenyataannya sulit adalah mendengarkan. Banyak orang di dunia ini yang berbicara tanpa benar-benar mendengarkan. Mereka cenderung lebih banyak fokus untuk mempersiapkan tanggapan daripada fokus dengan apa yang diceritakan. Jadi, mari kita mulai benar-benar mendengarkan dengan mengurangi kebiasaan pseudolistening

“Listening is one of the loudest forms of kindness.”  – Unknown 

References

Agboola, J. (2022, February 22). What Is Pseudo Listening? | Half Full Not Empty. Half Full Not Empty |. Retrieved July 27, 2022, from https://halffullnotempty.com/pseudo-listening/

Bhatt, A. (2021, August 28). 90 Listening Quotes Inspire You To Become A Good Listener. The Random Vibez. Retrieved July 27, 2022, from https://www.therandomvibez.com/listening-quotes/

Julia T. Wood. Interpersonal Communication. Everyday Encounters-Cengage Learning. Eighth Edition

Fuller, Kristen. (2021). “The Difference Between Hearing and Listening”. https://www.psychologytoday.com/us/blog/happiness-is-state-mind/202107/the-difference-between-hearing-and-listening 

Felice, Keza. (2022). “4 Tanda Ini Menunjukkan Kamu Seorang Pendengar yang Buruk, Segera Berubah!”. https://yoursay.suara.com/lifestyle/2022/02/13/102410/4-tanda-ini-menunjukkan-kamu-seorang-pendengar-yang-buruk-segera-berubah

Published by Airlangga Safe Space

ASAP merupakan platform kesehatan mental yang bertujuan untuk memberikan edukasi serta meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental di kalangan mahasiswa Universitas Airlangga.